Terbuka di tab baru
Karya Santri

Menulis sebagai Jalan Berpikir: Pengalaman Pertamaku Mengisi Kolom Karya

Oleh suarasantri•Okt 25, 2026
Suasana belajar santri

Dulu, ketika guru menyuruhku menulis, aku selalu bingung harus mulai dari mana. Layar kosong di depanku terasa menakutkan. Aku pikir menulis itu hanya untuk orang-orang yang sudah pandai — yang tahu banyak kosakata, yang sudah terbiasa, yang sudah dewasa.

Ternyata aku salah. Menulis justru cara untuk belajar berpikir. Ketika aku menuliskan sesuatu, aku dipaksa untuk merapikan apa yang tadinya hanya pikiran berantakan di kepalaku.

Mulai dari yang paling sederhana

Guru pembimbingku memberi nasihat yang sangat sederhana: “Tulis saja apa yang kamu lihat hari ini.” Jadi aku menulis tentang hujan sore yang turun saat kami sedang menghafal di aula. Tidak ada kata-kata indah, tidak ada kutipan dari buku. Hanya hujan, suara teman-temanku, dan perasaan tenang yang datang tiba-tiba.

Setelah selesai, aku membacanya ulang. Ternyata tulisan yang jujur itu lebih enak dibaca daripada tulisanku sebelumnya yang kupaksakan pakai kata-kata sulit.

“Menulislah dengan jujur. Keindahan akan datang sendiri seiring latihan.”

Untuk teman-teman yang baru mulai

Kalau kamu juga bingung harus mulai dari mana, ini saran dariku setelah beberapa bulan mencoba:

  • Tulis dulu, sunting kemudian. Jangan berhenti di tengah hanya karena merasa kalimatnya jelek.
  • Baca tulisanmu keras-keras. Kalau ada bagian yang sulit diucapkan, biasanya perlu diperbaiki.
  • Minta orang lain membaca. Pembaca pertama akan melihat kesalahan yang tidak kamu sadari.

Sekarang, setiap kali ada tugas menulis dari sekolah, aku tidak lagi takut. Layar kosong itu tidak lagi menakutkan — ia hanya menunggu kalimat pertama untuk ditulis.

Tentang Penulis

suarasantri

Redaksi Santri MIQ — ruang karya tulis santri MIQ Al Hikam. Berisi esai, cerpen, puisi, resensi, liputan kegiatan, dan renungan dari para santri.